Palu

Seperti biasa, saat waktu mau memasuki pesawat terbang, hati menjadi deg-deg an. Memang kendaraan ini sangat mewah untuk ukuran kantong yang lebih layak naik travel L300 atau bis. Akunya menjadi tidak tenang karena berpikir “kalau sudah di dalam pesata, hanya bisa pasrah kalo terjadi apa-apa…”.

Saya naik batavia air menuju Palu dengan transit di Balikpapan. Keberangkatan sempat tertunda 1,5 jam (kayak jadwal kereta aja hehe). Transit di balikpapan ternyata juga hanya 10 menit dan tidak boleh meninggalkan pesawat. Padahal dah mimpi mau menginjakkan kaki pertama kali di tanah Kalimantan. Sekitar jam 20 WITA kami memasuki bandara Mutiara Palu, ini juga pertama kalinya aku ke tanah celebes.

Produk katrok menyebabkan aku baru bisa ke luar Jawa saat berumur 30 tahun ke atas, berturut-turut Madura, Bali, Riau, Lampung dan Aceh.

Kami menuju hotel (baca: wisma) yang cukup dikenal di kota ini. Mulailah aku mengenal bagaimana suasana kota ini. Pergiliran listrik yang masih sering terjadi, rambu-rambu (petunjuk arah, red.) sangat jarang ada, bangunan rumah/gedung beratap seng (bukan genting), sulitnya mendapatkan nasi pulen (empuk), dan hawa udara yang cukup panas, serta ketersediaan air tanah sangat rendah. Setiap toko yang cukup besar biasa menggunakan jenset (?) pada saat pemadaman listrik. Petunjuk arah yang jarang menyebabkan pelancong, seperti kami, sering kebingungan menuju tempat tujuan, bahkan juga untuk kembali ke hotel tempat kami menginap.

Wilayah ini juga sangat jarang menghasilkan produk beras karena umumnya kurang subur dan ketersediaan air rendah. Badan juga dibuat kurang nyaman karena di luaran sangat gerah dan panas, tetapi di dalam kamar hotel sering kedinginan karena AC.

Kondisi lahan datar hanya di sekitar kota Palu, namun sekelilingnya berupa pegunungan terjal dengan solum tanah (kedalaman tanah) sangat tipis. Tanaman dominan hanya semak dan kelapa. Sebaiknya jangan berpikir mengembangkan pertanian atau hutan produksi karena walau lahannya sangat luas tetapi kebanyakan berbatuan induk berupa kapur, tanahnya tipis, dan kemiringan lerengnya sangat curam. Dari kota Palu menuju Donggala, bentuk lahan umumnya lahan pesisir pantai yang sangat pendek (sekitar 50 meter) langsung berbatasan dengan lereng pegunungan yang curam. Praktis, segala aktifitas manusia dan pembangunan hanya mengandalkan petak datar tersebut.

Pantai di Palu sangat menakjubkan karena berada di teluk memanjang lebih dari 20 km, air lautnya bening, kebanyakan pasir putih, dan hampir tidak ada ombak. Saya malah bermimpi di sini ada jetsky atau wisata pantai lainnya. Konon keindahannya tidak kalah dengan Bunaken di Manado. Namun agaknya pantai ini belum digarap dengan baik untuk pariwisata. Aku banyak menikmati makan yang serba ikan dengan ramuan bumbu khas Palu (borehan cabe dan sambel dabu-dabu). Ikan seperti kakap merah banyak ditemukan di sini. Namun kadang harganya cukup mencekik bagi pelancong. Maka kadang kita lebih ‘aman’ makan di rumah makan padang atau KFC yang harganya cukup standard nasional. Saya sempat kurang ‘ngeh’ saat mencoba sop Kaledo kok diberi sepiring singkong rebus. Ternyata itu adalah paket kekhasannya.

Sepanjang jalan yang dilalui juga banyak terdapat sapi dan kambing yang bebas berkeliaran. Jadi kalo kita turun di sebuah kebun harus hati-hati agar kaki tidak menginjak kotoran hewan yang sudah kering. Aku juga sempat mengamati sebuah bukit di donggala yang konon di situ pernah dijadikan pangkalan pesawat terbang jaman pendudukan Jepang. Konon juga ada orang Taiwan yang ingin menanamkan investor untuk pembuatan lapangan terbang. Kontan saja lokasi itu sekarang ini 80% sudah dibeli oleh para spekulan yang menunggu keuntungan ganti rugi dari alih fungsi lahan.

Tidak lupa aku membeli makanan dan souvenir khas buat oleh-oleh. Sabtu aku pulang menuju jogja, kembali transit di balikpapan. Ternyata dari balikpapan aku baru bisa melihat ke bawah, bahwa pesawat memilih terbang menyusuri pantai sebelum menyeberang ke laut. Bahkan saat masuk ke pulau jawa, aku melihat jelas di atas pulau ini banyak terdapat awan, tetapi tidak untuk di atas lautan. Agaknya pesawat masuk melewati pegunungan muria, ke selatan melewati bengawan solo, waduk gajahmungkur, dan baru belok ke wilayah jogja. Pesawat sempat lama berputar sebelum landing karena saat itu di atas yogya berawan sangat tebal.

Pantai di Palu sangat menakjubkan karena berada di teluk memanjang lebih dari 20 km, air lautnya bening, kebanyakan pasir putih, dan hampir tidak ada ombak.

Saya malah bermimpi di sini ada jetsky atau wisata pantai lainnya. Konon keindahannya tidak kalah dengan Bunaken di Manado. Namun agaknya pantai ini belum digarap dengan baik untuk pariwisata.

Aku banyak menikmati makan yang serba ikan dengan ramuan bumbu khas Palu (borehan cabe dan sambel dabu-dabu). Ikan seperti kakap merah banyak ditemukan di sini. Namun kadang harganya cukup mencekik bagi pelancong. Maka kadang kita lebih ‘aman’ makan di rumah makan padang atau KFC yang harganya cukup standard nasional. Saya sempat kurang ‘ngeh’ saat mencoba sop Kaledo kok diberi sepiring singkong rebus. Ternyata itu adalah paket kekhasannya.Sepanjang jalan yang dilalui juga banyak terdapat sapi dan kambing yang bebas berkeliaran. Jadi kalo kita turun di sebuah kebun harus hati-hati agar kaki tidak menginjak kotoran hewan yang sudah kering.

Aku juga sempat mengamati sebuah bukit di donggala yang konon di situ pernah dijadikan pangkalan pesawat terbang jaman pendudukan Jepang. Konon juga ada orang Taiwan yang ingin menanamkan investor untuk pembuatan lapangan terbang. Kontan saja lokasi itu sekarang ini 80% sudah dibeli oleh para spekulan yang menunggu keuntungan ganti rugi dari alih fungsi lahan.

Tidak lupa aku membeli makanan dan souvenir khas buat oleh-oleh. Sabtu aku pulang menuju jogja, kembali transit di balikpapan. Ternyata dari balikpapan aku baru bisa melihat ke bawah, bahwa pesawat memilih terbang menyusuri pantai sebelum menyeberang ke laut. Bahkan saat masuk ke pulau jawa, aku melihat jelas di atas pulau ini banyak terdapat awan, tetapi tidak untuk di atas lautan. Agaknya pesawat masuk melewati pegunungan muria, ke selatan melewati bengawan solo, waduk gajahmungkur, dan baru belok ke wilayah jogja. Pesawat sempat lama berputar sebelum landing karena saat itu di atas yogya berawan sangat tebal.

muhamad kundarto maskund@yahoo.com
[upnvy] 5 November 2007